RSS

FISIOLOGI LATIHAN OTOT

17 Apr

1. Latihan Isotonik

Latihan isotonic adalah pola latihan yang mengikuti kaidah kontraksi isotonic, yakni suatu kontraksi di mana otot bekerja mengalami pemendekan dari panjang asal. Pada proses pemendekan, kecepatan tidak konstan dengan menanggung beban yang besarnya tidak proporsional dengan kekuatannya. Secara mikro peristiwa isotonic yang terjadi di dalam sarcomere adalah adanay tarikan aktin oleh kepala myosin yang berulang kali dari triponin. Satu ketroponin berikutnya. Efek dari tarikan yang berulang-ulang mengakibatkan sarcomere mengalami pemendekan. Respon kekuatan kontraksi isotonic sangat tergantung pada besarnya beban yang di tanggungnya. Bila beban yang ditanggung ringan atau lebih kecil dari kekuatan aksimum otot, maka hanya beberapa fasciculus saja yang bekerja, sebaliknya bila beban yang ditanggung berat atau sebesar kekuatan maksimum otot, maka seluruh fasciculus dari otot tersebut akan dikerahkan.

2. Latihan Isometrik

Latihan isometrik adalah pola latihan yang mengikuti kaidah kontraksi isometric, yakni suatu kontraksi dimana otot tidak mengalami perubahan panjang otot. Secara mikro peristiwa yang terjadi di dalam sacromere, kepala myosin menarik aktin tanpa terjadi pemindahan dari tropinin satu ke tropinin lain, atau tidak terjadi sliding mechanism. Efek dari mekanisme ini setiap sacromere tidak berubah panjangnya. Besarnya kontraksi isometric sangat tergantung pada besar beban yang ditanggungnya. Bila beban yang dtanggung ringan atau lebih kecil dari kekuatan maksimum otot maka hanya beberapa fasciculus saja yang bekerja, sebaliknya bila beban yang ditanggung berat atau sebesar kekuatan maksimum otot, maka seluruh fasciculus dari otot tersebut akan dikerahkan. Jika kita ingat kembali susunan miosin dan aktin di dalam sacomere, kekuatan kontraksi sangat tergantung oleh jumlah kepala myosin yang ikut menarik aktin. Dan kita ingat bahwa jumlah kepala myosin yang bias berpasangan dengan aktin dipengaruhi dapat panjang sacromere (grafik gyuton). Atas dasar teori ini maka latihan isometric harus dilakukan pada sudut-sudut lintasan gerak.

3. Latihan Isokinetik

Latihan isokinetik adalah pola latihan yang mengikuti kaidah kontraksi isokinetik, yakni suatu kontraksi dimana otot bekerja dengan kecepatan konstan dengan menanggung beban yang besarnya secara proporsional dengan kekuatannya.
Untuk dapat melakukan latihan dengan model isokinetik harus memiliki alat latihan yang dapat mengatur pembebanan berubah-ubah. Di negara lain alat yang namanya Mini Gym dipakai untuk latihan yang dapat mengatur beban sesuai tuntutan lintasan gerak. Modifikasi yang dapat dilakukan sukar diterapkan, bila kita tidak memiliki alat ini. Latihan kekuatan isometric di tiap sudut lintasan merupakan modifikasi yang serupa dengan isokinetik, namun hal ini tentu saja tidak mencapai tujuan yang diinginkan. Sebab isokinetik training menuntut otot untuk bekerja secara dinamis dengan kecepatan konstan.

Secara fisiologis, tujuan pokok dari latihan adlah “membangun sumber energy yang diperlukan oleh otot”. Karena sumber energi untuk kontraksi otot adalah aerobik dan anaerobik, maka kedua sumber energi inilah yang dibangun.
Ditijau dari sudut fisiologis, prinsip dasar latihan harus membuhi yarat sebagai berikut :
1) Pembebanan meningkat bertahap
2) Prinsip pembebanan berlebih
3) Pola beban dan pola gerak sama dengan pola beban dan pola gerak sesungguhnya.

4. Latihan Kekuatan

Latihan ini diarahkan pada pencapaian daya terbesar yang dapat diasilkan oleh kontraksi otot secara maksimal. Resep Latihan :
1) Besar beban latihan kurang dari 10 repetisi maksimum (RM)
2) Jumlah set latihan 3-5 set
3) Pola gerakan dapat berupa isotonic, isometric atau isokinetik
4) Irama gerak lambat.

Faktor yang mempengaruhi adalah:
– Ukuran otot
– Jenis otot
– Adaptasi system syaraf

5. Latihan Kecepatan

Latihan ini diarahkan pada pencapaian kemampuan gerak secepat-cepatnya yang dapat dihasilkan oleh kontraksi otot. Resep latihan :
1. Besar beban latihan, ringan samapi sedang.
2. Jumlah set latihan 3-5 set
3. Pola gerakan dapat berupa isotonic, isokinetik,plyometrik
4. Irama gerak cepat

Faktor yang berpengaruh :
– Transmisi sinaps
– Jenis otot
– Kekuatan otot
– Kelentukan

6. Latihan Daya Tahan

Dalam latihan pengembangan daya tahan otot, pada dasarnya tidak berbeda jauh atau sangat mirip dengan latihan kekuatan. Perbedaan yang nyata adalah terfokus pada pembebanan yang lebih rendah dan pengulangan yang lebih lama. Untuk latihan isotonic dan isokinetik pembebanan harus di atas 10 RM, sedangkan untuk isometric penahanan labih dari 20 detik.

7. Latihan Daya Ledak

Latihan ini diarahkan pada pencapaian usaha kerja persatuan waktu tertentu yang dapat dihasilkan oleh kontraksi otot.
Resep Latihan adalah :
1. Besar beban latihan, ringan sampai sedang
2. Jumlah set latihan 3-5 set
3. Pola gerakan, dapat berupa isotonic, isokinetik, plyometrik
4. Irama gerak scepat dan mendadak.

 

sumber : Fisiologi Olahraga dan Kesehatan, Drs. Tri Rustiadi, M.Kes.

About these ads
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 17 April 2012 in FISIOLOGI OLAHRAGA DAN KESEHATAN

 

One response to “FISIOLOGI LATIHAN OTOT

  1. joko adi

    6 September 2013 at 11:10

    informatif..

     

Terimaksih Atas Kunjungannnya, Jangan Lupa Tinggalkan Komentar...!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Windarul's Blog

Just another WordPress.com weblog

SENAM AEROBIC

Tubuh Sehat dan Bugar dengan Aerobic

Kumpulan Puisi

Ingin Menjadi Lebih Baik

PENJAS ORKES

Kenali Diri Sendiri Dulu Sebelum Mengenali Orang Lain

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: