RSS

Arsip Bulanan: Desember 2012

EVALUASI CIPP

Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dicapai.
Defenisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan bagi keperluan pengambil keputusan

Evaluasi program adalah proses untuk mendeskripsikan dan menilai suatu program dengan menggunakan kriteria tertentu dengan tujuan untuk membantu merumuskan keputusan , kebijakan yang lebih baik. Pertimbangannya adalah untuk memudahkan evaluator dalam mendeskripsikan dan menilai komponen-komponen yang dinilai, apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak.

Model CIPP ini dikembangkan oleh Stufflebeam, dkk. (1967) di Ohio State University. CIPP yang merupakan sebuah singkatan dari huruf awal empat buah kata, yaitu :

                                    Context evaluation      : evaluasi terhadap konteks

                                    Input evaluation          : evaluasi terhadap masukan

                                    Proses evaluation        : evaluasi terhadap proses

                                    Product evaluation      : evaluasi terhadap hasil

Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program kegiatan. (Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, 2008:45).

Model CIPP ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi dasar pembuatan keputusan dalam evaluasi sistem dengan analisis yang berorientasi pada peruhan terencana.

Batasan tersebut mempunyai tiga asumsi mendasar.

1. Menyatakan pertanyaan yang meminta jawaban dan informasi spesifik yang harus dicapai.

2. Memerlukan data yang relevan, untuk mendukung identifikasi tercapainya masing-masing komponen.

3. Menyediakan informasi yang hasil keberadaannya diperlukan oleh para pembuat keputusan peningkatan program.

Evaluasi model CIPP melayani empat macam keputusan: (1) perencanaan keputusan yang mempengaruhi pemilihan tujuan umum dan khusus, (2) keputusan pembentukan atau structuring, yang kegiatannya mencangkup pemastian strategi optimal dan desain proses untuk mencapai tujuan yang telah diturunkan dari keputusan perencanaan, (3) keputusan implementasi, dimana pada keputusan ini para evaluator mengusahakan sarana-prasaran untuk menghasilkan dan meningkatkan pengambilan keputusan atau eksekusi, rencana, metode, dan strategi yang hendak dipilih, dan (4) keputusan pemutaran yang menentukan jika suatu program itu diteruskan, diteruskan dengan modifikasi, dan atau diberhentikan secara total atas dasar kriteria yang ada.

Untuk melaksanakan empat macam keputusan tersebut, ada empat macam fokus evaluasi, yaitu : (1) evaluasi konteks, menghasilkan informasi tentang macam-macam kebutuhan yang telah diatur prioritasnya, agar tujuan dapat diformulasikan; (2) evaluasi input, menyediakan informasi tentang masukan terpilih, butir – butir kekuatan dan kelemahan, startegi, dan desain untuk merealisasikan tujuan; (3) evaluasi proses, menyediakan untuk para evaluator melakukan prosedur monitoring terpilih yang mungkin baru diimplementasikan sehingga butir yang kuat dapat dimanfaatkan dan yang lemah dapat dihilangkan; (4) evaluasi produk, mengakomodasi informasi untuk meyakinkan dalam kondisi apa tujuan dapat dicapai dan juga untuk menentukan, jika strategi yang berkaitan dengan prosedur dan metode yang diterapkan guna mencapai tujuan sebaiknya berhenti, modifikasi atau dilanjutkan dalam bentuk yang seperti sekarang. (Sukardi, 2009:63,64).

Sumber:

Arikunto, Suharsimi, Cepi Safruddin Abdul Jabar. 2008. Evaluasi Program Pendidikan; Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidik. Jakarta: Bumi Aksara.

Sukardi. 2009. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag: , ,

DOPING

 

doping

Doping adalah penggunaan obat secara ilegal untuk meningkatkan prestasi atlit. Banyak tilikan mengenai doping ini. Seseorang dapat menelaahnya dari aspek farmakologi, psikologis, psikologis-pedagogis. Kesemua tilikan ini penting. Namun yang lebih penting lagi adalah pemahaman dari perspektif etika. Bab 4 ini mengupas masalah doping dari sudut nilai moral atau etika.

TERPERCAYA

Gagasan untuk mengamalkan sportivitas merupakan persoalan besar karena begitu banyak tantangannya. Ide tentang sportivitas ini begitu luhur dalam konteks pembinaan olahraga, kompetensi dan pencapaian prestasi. Dapat dibayangkan apa yang terjadi apabila fairness atau sportivitas ini tidak dapat ditegakkan dalam olahraga. Tanpa sportivitas maka suatu kompetisi tidak akan terkendali.

Namun sportivitas itu bukan soal kepatuhan. Perilaku sportif itu dipelajari. Karena itu harus dipahami mengapa dan bagaimana berperilaku sportif dalam olahraga, dan karena itu pula mereka dilarang menggunakan obat terlarang dalam kompetisi.

Salah satu akibat penggunaan obat terlarang dalam olahraga adalah merosotnya kepercayaan terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kompetisi. Pemeliharaan kepercayaan ini sangatlah mahal dan penting maknanya.

Kepercayaan ini bukan persoalan emosi tetapi kelangsungan fungsi yang menjadi dasar bagi keterpercayaan yang mendalam. Di balik persoalan itu terdapat asumsi yang percaya bahwa terdapat satu peluang yang sama bagi semua orang untuk berprestasi. Tentu saja, tujuan ini sangat sulit dicapai. Kesempatan yang sama memang menjadi semacam ide belaka, sebab betapa sulit untuk mengontrolnya.

Semua pihak yang terlibat dalam suatu kompetisi tentu tidak mengetahui apa yang dikerjakan oleh pihak lawannya. Karena itu siapa yang bias menjamin atlit menggunakan doping sebagai pemacu prestasi ?

Sebagai alat pengontrol adalah adanya peraturan tertulis yang menjadi rujukan perilaku bagi semua pihak terkait, baik atlit, pelatif dan official serta pihak terkait lainnya, tak terkecuali pihak media massa. Setiap pemain harus mematuhi aturan itu, bisa dibayangkan kekacauan yang terjadi dalam suatu kompetisi apabila pemain dan lainya tidak mematuhi aturan itu.

Yang harus dilakukan selanjutnya adalah membangkitkan kebanggaan kepada atlit mengenai publikasi prestasinya yang dicapai dengan memanfaatkan asli usaha dan kemampuan badannya.

Doping tidak saja menghilangkan kepercayaan antara atlit dan sesamanya tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat kepada olahraga. Krisis kepercayaan ini sudah lama terjadi karena factor ketidak jujuran itu. Masyarkat seperti kurang percaya kepada hasil pertandingan sepakbola sebagai kasus permainan skandal suap yang gampang mengatur kedudukan skor. Masyarakat menjadi berkurang kegairahanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola karena masyarakat tau pertandingan tidak dimainkan dengan cara bersungguh-sungguh.

TANGGUNG JAWAB ATLET SENDIRI

Pengadaan lab untuk menganalisis penggunaan obat perangsang atlit tergolong mahal, selain memerlukan keahlian dan peralatan canggih untuk kebutuhan analisinya. Prosedurnya pun cukup kompleks dan memakan energy.

Negara maju dibidang keolahragaanya yang sudah mencapai tahap ‘ olahraga memasyarkat ‘, control doping menjadi pekerjaan yang pasif, sebab begitu banyak jumlah anggota olahragawan yang menjadi populasinya. Karena itu ditempuh jalan melalui pengacakan atau prosedur random. Melalui prosedur undian , maka setiap orang berpeluang  terpilih menjadi subyek yang akan diperiksa apakah sebagai pengguna doping atau tidak. Mereka yang terpilih itu kemudian didatangi oleh petugas untuk diambil urinnya yang selanjutnya diperiksa di lab.

Prosedur itu memang efektif karena semua orang berpeluang untuk diperiksa, dan semua orang dianggap berpeluang pula menggunakan doping. Namun, apakah cara itu dijamin efektif ?

Penciptaan jaringan international untuk menanggulangi masalah doping ini dari sisi ide memang baik, namun tidak layak ditinjau dari aspek teknis dan ekonomi. Terlalu luas jangkauan pekerjaannya dan terlalu mahal pula biayanya.

Cara yang dianggap paling efektif adalah pengawasan melekat melalui self-kontrol. Atlit itu sendirilah yang mengawasi dirinya. Di Negara yang maju  dan terbiasa dengan obat perangsang itu amat kuat.

Terkait dengan hal ini, realisasi pengawasan terhadap diri sendiri itu juga harus didukung oleh pihak lainnya yang sama-sama ikut mengamankan pelanggaran yang terjadi. Para dokter juga ikut bertanggungjawab.

Pengawasan diri itu pada akhirnya terpulang pada etika dan nilai moral yang melakat pada diri seseorang. Atas dasar rujukan itulah ia menentukan pilihannya, apakah menggunakan doping atau tidak.

Karena alasan ancaman terhadap kesehatan, seperti bahaya kena kangker hati, tidak dapat keturunan dan lain-lain yang mengerikan, kesemua itu rupanya tidak cukup membuat atlet jera menggunakan obat itu. Kabar yang tidak tersiar luas mengungkapkan kasus kematian atlit balap sepeda karena menggunakan obat doping.

Jadi yang menjadi benteng sekaligus filter untuk melindungi keselamatan atlit adalah mereka sendiri. Namun demikian seperti disinggung di muka, aspek pedagogic atau pendidikan memainkan peranan penting dalam proses penyadaran dan penbentukan sikap dan perilaku untuk mempertahankan keterpercayaan dalam kejujuran dalam olahraga.

MORAL DOKTER OLAHRAGA

Selain pelatih, dokter olahraga juga merupakan anggota tim atau warga masyarakat olahraga yang ikut serta memelihara kepercayaan terhadap kompetisi dan performa. Sebagai ahli-profesional yang paham akan kasiat obat dan eksesnya ditinjau dari aspek farmakologi, maka dokter olahraga berpotensi untuk terjebak kearah pemberian atau dukungan kepada atlet untuk menggunakan obat perangsang tersebut. Hal itu dapat didorong oleh factor komersialisasi dan nama masyur yang juga terkait denga factor ekonomi. Ketenaran nama yang dicapai atlet akan mendorong peningkatan status sosialnya. Masyarakat mengagumi diri dan prestasi atlit yang bersangkutan.

Lebih khusus lagi para ahli farmakologi merasa ada tantangan untuk melakukan pengujian terhadap kasiat obat terlarang itu. Namun ada yang percaya diantara mereka bahwa obat itu tidak berkhasiat negative. Padahal setiap obat merupakan intrusi kedalam tubuh yang kemudian membangkitkan resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan seseorang.

Sikap yang menganggap enteng itu terjadi karena masih sulit untuk mengklaim bahwa sebagai akibat pemakean anabolic steroid misalnya, prestasi seorang atlit menjadi meningkat. Namun menjadi kebiasaan bagi ahli untuk menyimpulkan adanya korelasi antara prestasi dan pemakaian anabolic steroid walaupun mereka juga sukar menentukan hubungan antara kedua factor itu.

TANGGUNG JAWAB SEMUA ORANG

Pada akhirnya penangkalan masalah doping menjadi tanggung jawab setiap orang, bukan saja atlet, pelatih atau dokter olahraga. Semua orang yang berkepentingan dengan olahraga ikut bertanggung jawab, terhadap doping ini.

Industry farmakologi juga ikut bertanggung jawab, sebab munculnya obat-obat baru dengan segala khasiat dan akibatnya merupakan produk dari iptek di bidang farmasi. Penggunaan doping memang terkait dengan konteks social. Masyarakat memang mengapresiasi pencapaian prestasi. Namun penipuan terjadi, sehingga nilai moral memang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Penggunaan doping sebagai satu bentuk penipuan dalam olahraga itu juga semakin kompleks masalahnya dari aspek kajian aksiologis karena didalamnya terlibat beberapa factor. Apa substan yang dianggap berbahaya dan kemudian seberapa kuat efeknya yang disebut membahayakan ? apakah larangan itu merupakan sebuah prinsip yang konsisten atau sebaliknya, tidaklah pemberian kebebasan untuk memilih merupakan hak bagi orang dewasa yang “dewasa” dan bertanggung jawab atas perbuatanya.

KESIMPULAN

Kesimpulannya, penggunaan doping menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap olahraga, karena itu pula, penggunaan doping menjatuhkan nilai pedagogi olahraga, karena jatuh keterpercayaan . kredibilitas olahraga, kompetisi dan atlit jatuh di mata masyarakat, sebab terjadi penipuan untuk berprestasi, tidak berkat usaha dan dominasi kemampuan yang asli tetapi bantuan dari luar.

DAFTAR PUSTAKA

Lutan, Rusti dan Sumardianto. 1999/2000. Filsafat Olahraga : Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag:

PENGERTIAN PELATIH

Pelatih adalah seorang yang profesional yang tugasnya membantu olahragawan dan tim dalam memperbaiki penampilan olahraga. Karena pelatih adalah suatu profesi, maka sebaiknya pelatih harus dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar/ukuran professional yang ada. Sedangkan yang sesuai dengan standar profesi adalah pelatih harus dapat memberikan pelayanan pelatihan sesuai dengan perkembangan mutakhir pengetahuan ilmiah di bidang yang ditekuni ( Pate Rotella, 1993:5).

Berdasarkan dari hal di atas maka sebaiknya para pelatih harus secara teratur menyesuaikan diri dengan perkembangan terbaru ilmu pengetahuan dan mengubah praktek kepelatihannya.

pelatih

Pelatih yang baik harus mempunyai kemampuan sebagai berikut : (1) mempunyai kemampuan untuk membantu atlet dalam mengaktualisasikan potensinya; (2) bila membentuk tim akan didasarkan pada ketrampilan individu yang telah diajarkan; (3) mempunyai pengetahuan dan keterampilan teknis yang seimbang; (4) mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan tingkat intelektual dengan keterampilan neuromuskuler atletnya; (5) mampu menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dalam membentuk kondisi atlet; (6) lebih meningkatkan pada unsur pendidikan secara utuh, baru kemudian pada unsur pelatihan; (7) membenci kekalahan, akan tetapi tidak mencari kemenangan dengan berbagai cara yang tidak etis; (8) mempunyai kemampuan untuk mengendalikan dirinya; (9) mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi peningkatan terhadap partisipasi atletnya; (10) mempunyai kemampuan untuk selalu dihormati oleh atletnya maupun teman-temannya; dan (11) mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap profesinya ( Mc Kinney, 1975 ).

Landasan Hukum

UU NO 3 TAHUN 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional;  Pasal 83: Ayat 1- 3, yang berbunyi :

 Ayat (1) Sertifikasi dilakukan untuk memenuhi :

  1. Kompetensi Tenaga Keolahragaan

Ayat (2) Hasil sertifikasi berbentuk sertifikat kompetensi dan sertifikat kelayakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang serta induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan sebagai akuntabilitas publik.

Ayat (3) Sertifikat kompetensi diberikan kepada seseorang sebagai pengakuan setelah lulus uji kompetensi.

Pelaksanaan UU

Dalam UU NO 3 Tahun 2005 pasal 83: ayat 1-3 sangat bagus apabila semua pelatih memahami UU ini dan mempunyai sertifikat profesi, pastinya olahraga Indonesia akan maju dan berprestasi.

Namun dalam kenyataan hanya sedikit pelatih yang memperoleh sertifikat ini, kebanyakan para pelatih hanya memikirkan materi dan menciptakan juara yang instan dan tidak memikirkan untuk jangka panjang, sehingga pelatih tidak mempedulikan sertifikat kompetensi. Yang terpenting bagi kebayakan pelatih adalah mereka tidak membutuhkan sertifikat, tetapi materi. Jadi mereka tidak mengerti olahraga yang berkembang sekarang seperti apa. Hal ini juga sangat merugikan bagi atlet sendiri, karena atlet yang ingin sungguh-sungguh berprestasi dan berkembang, mereka tidak dapat mengembangkan kemampuanya karena tidak dibekali latihan yang baik serta perkembangan metode pelatihan baru oleh pelatihnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag: ,

SEPAK TAKRAW

A.    Pengertian Sepak Takraw

Pada tahun 1965 “takraw” dibakukan dengan resmi di Malaysia dengan kata “sepak” diambil dari bahasa Melayu, kata “takraw” diambil dari bahasa Thai yang berarti “bola terbuat dari anyaman rotan”. (Sudrajat Prawirasaputra,2000:4).

“Sepak” berarti gerakan menyepak sesuatu dengan kaki, dengan cara mengayunkan kaki di depan atau ke sisi (Depdikbud, 1995). Sedangkan “Takraw” berarti bola atau barang bulat yang terbuat dari anyaman rotan (Depdikbud, 1992). Jadi sepaktakraw adalah sepak raga yang telah dimodifikasikan untuk menjadikannya sebagai suatu permainan yang kompetitif. Sedangkan menurut ahli lain mengatakan sepaktakraw adalah menyepak bola dengan samping kaki, sisi kaki bagian dalam atau bagian luar kaki yang terdiri dari tiga orang pemain (Sanafiah, 1992).

Di Indonesia sendiri organisasi pertama yang menaungi sepak takraw adalah Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia ( PERSERASI ) didirikan pada tahun 1971 namun pada tahun 1986 dirubah menjadi Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia ( PERSETASI ). PERSETASI telah menjadi anggota international Sepak Takraw Federation (ISTAF) dan Asian Sepak Takraw Federation (ASTAF). (Sudrajat Prawirasaputra, 2000:4).

B.   Peraturan Permainan Sepaktakraw

1.    Lapangan

  • Lapangan Sepaktakraw seukuran dengan lapangan Badminton yaitu : 13,40 m x 6,10 m
  • Sepaktakraw dapat dimainkan dalam gedung atau diluar gedung (apabila dimainkan didalam gedung maka tinggi loteng minimal 8 m dari lantai).
  • Keempat isi lapangan ditandai dengan cet atau lakban yang lebarnya 4 cm, diukur dari pinggir sebelah luar.
  • Areal bebas minimal 3 m dari garis luar lapangan bebas dari rintangan
  • Centre cirle yaitu garis tengah dengan lebar 2 cm.
  • Quarter circle yaitu garis seperempat lingkaran  dipojok garis tengah radius 90 cm diikur dari garis sebelah dalam.
  • The service circle adalah lingkaran service dengan radius 30 cm berada ditengah lapangan, jarak dari garis belakang 2,45 m dan jarak dari titik tengah garis lingkaran  kegaris tengah (Centre Line) 4,25m, jarak titik tengah lingkaran adalah 3,05m dari kiri dan kanan garis pinggir lapangan.

Lapangan  Takrow

2.    Ukuran Tiang Net

  • Putra: Tinggi net 1,55m dipinggir dan minimal 1,52 di bagian tengah.
  • Putri: Tinggi net 1,45m dipinggir dan minimal 1,42 di bagian tengah.
  • Kedudukan tiang 30cm diluar garis pinggir

3.    Jaring atau Net

  • Net terbuat dari tali atau benang kuat atau nilon, dimana tiap lubangnya lebar 6 – 8 cm.
  • Lebar net 70 cm dengan panjang 6,10 m.

4.    Bola Takraw
Terbuat dari plastik dimana awalnya adalah terbuat dari rotan, dengan ukuran :

  • Lingkaran 42-44 cm untuk putra dan 43-45 cm untuk putri.
  • Berat adalah 170-180 gr untuk putra dan 150-160 untuk putri.

 Bola Takraw

5.    Pemain-pemain

  • Permainan ini dimainkan oleh 2 (dua) “Regu” masing-masing regu terdiri dari 3 (tiga) orang pemain dan disetiap regu dilengkapi oleh 1 (satu) orang pemain cadangan.
  • 1 (satu) dari tiga pemain diposisi belakang disebut back atau “Tekong” sebagai penyepak mula untuk memulai permainan.
  • Dua orang berada didepan yang berada pada sebelah kiri tekong  disebut “Apit kiri” dan yang berada pada sebelah kanan tekong  disebut “Apit kanan”.

6.    Kesalahan-kesalahan

a.    Kesalahan Pihak Penyepak Bola

  • Apabila sebagai pelambung masih memainkan bola, melemparkan bola pada teman sendiri, memantulkan, melempar dan menangkap lagi setelah wasit menyebut posisi angka.
  • Apabila mengangkat kaki, menginjak garis, menyentuh atau melewati garis bawah net ketika melakukan lambung bola.
  • Tekong melompat saat melakukan service, kaki tumpuan tidak berada dalam lingkaran atau menginjank garis lingkaran servis.
  • Tekong tidak menyepak bola yang dilambungkan kepadanya.
  • Bola menyetuh salah seorang pemain sendiri sebelum bola melewati net.
  • Bola jatuh diluar lapangan.
  • Bola tidak melewati net.

b.    Kesalahan Pihak Penerima Service
Berusaha mengalihkan perhatian lawan seperti : (isyarat tangan, menggertak, bersuara  keras  atau membuat keributan).

c.    Kesalahan kedua Pihak

  • Ada pemain yang mengambil bola dilapangan lawan.
  • Menginjak dan melewati satu telapak kaki garis tengah.
  • Ada pemain yang melewati lapangan lawan, walaupun diatas atau dibawah net kecuali pada saat ”The Follow Trugh Ball”
  • Memainkan bola lebih dari tiga kali.
  • Bola mengenai tangan.
  • Menahan atau menjepit bola antara lengan dan badan atau antara dua kaki dengan bola.
  • Bola mengenai loteng atau pembetas lainnya.

7.    Sistem perhitungan angka

  • Apabila penerima servis melakukan ksesalahan otomatis akan memperoleh angka sekaligus melakukan sepak mula lagi bagi penyepak mula.
  • Angka kemenangan setiap set maksimum 21 angka, kecuali pada saat posisi angka 20-20, pemenang akan ditentukan pada saat selisih dua angka sampai batas akhir 25 poin, ketika 20-20 wasit utama menyerukan batas angka 25 poin.
  • Memberikan kesempatan istirahat 2 menit masing-masing pada akhir  set pertama atau kedua termasuk Tie Break.
  • Apabila masing-masing regu memnangkan satu set, maka pemain akan dilanjutkan dengan set “Tie Break” dengan 15 poin kecuali pada posis 14-14, pemenang akan ditentukan pada selisih dua angka sampai batas akhirnya angka 17.
  • Sistem perhitungan angka menggunakan Relly Poin
  • Pergantian pemain

1.    Setiap “Regu” hanya dapat melakukan 1 (satu) kali pergantian pemain dalam satu pertandingan.
2.    Pergantian pemain diperbolehkan setiap saat ketika bola mati melalui tim menejer atau pelatih yang disetujui oleh official atau petugas pertandingan.
3.    Setiap regu dapat menominasikan maximum dua orang cadangan tetapi hanya bolah melakukan pergantian pemain kali.
4.    Pemain yang mendapat kartu merah dapat diganti dengan ketentuan belum ada pergantian pemain sebelumnya.

8.    Posisi pemain pada saat service

  • Sebelum permainan dimulai, kedua regu harus berada dilapangan masing-masing dalam posisi siap bermain.
  • Dalam melakukan sepak mula, salah satu kaki tekong berada dalam garis lingkaran service.
  • Kedua apit kita melakukan servis harus berada pada seperempat lingkaran.
  • Lawan atau regu penerima servis bebas bergerak didalam lapangan sendiri.

9.    Official (petugas pertandingan)
Sutu pertandingan harus dipimpin technikal sebagai berikut :

  • 2 orang Technical Delegotate
  • 6 orang juri (dewan hakim)
  • 1 orang Official Refree
  • 2 orang wasit (wasit utama dan wasit dua)
  • 6 orang penjaga garis samping dan belakang

10.    Pinalty (hukuman)
Pemain yang menggar peraturan ini akan dikenakan sangsi atau hukuman pernyataan dari wasit apabila :

  • Memperlihatkan sikap tidak sopan kepada pemain atau penonton juga pada wasit atas keputusan yang diambil.
  • Menghubungi wasit yang bertugas dengan keras mengenai suatu keputusan yang diambil.
  • Meninggakan lapangan permainan tanpa permisi kepada wasit yang memimpin pertandingan.
  • Memberikan bola kepada pihak lawan dengan menggunakan kaki atau melemparkannya dengan keras.
  • Berkelakuan tidak sopan selama permainan.

11.    Apabila hal tersebut dilanggar oleh seseorang pemain maka wasit menggunakan kartu sebagai berikut:

1.1.    Kartu Kuning
Sebagai tanda peringatan seorang pemain yang melakukan pelanggaran terhadap tata tertib seperti yang diatas.

1.2.    Kartu Merah

  • Apabila pemain telah menerima kartu kuning pada pertandingan yang sama.
  • Sikap kasar dan tidak sopan seperti memukul, menendang, meludah dan lain-lain.
  • Menggunakan kata-kata kotor atau mencaci maki.

C.   Rangka Dan Tungkai

1.    Rangka
Rangka adalah seluruh tulang-tulang pada manusia yang terbentuk oleh ± 200 b uah tulang yang membentuk tubuh yang disebut  rangka. Jadi rangka merupakan alat gerak pasif pada manusia. Kegunaan rangka pada manusi :

  • Memberikan bentuk pada tubuh
  • Melindungi alat-alat tubuh yang lunak atau vital seperti paru-paru, otak, alat percernaan dan lain-lain.
  • Tempat melekatnya otot-otot dan urat.
  • Untuk mengokohkan tubuh.

2.    Tungkai
Tungkai merupakan tulang-tulang anggota gerak bawah, tulang tungkai terdiri dari beberapa tulang kering yaitu : tulang betis, tulang tempurung lutut, empat belas tulang pergelangan kaki (masing-masing 7 bauah), sepuluh tulang telapak kaki dan dua puluh delapan ruas jari kaki (masing-masing jari 3 ruas kecuali ibu jari kaki 2 ruas).

D.       Ketetapan Sasaran Servis

Ketetapan sasaran berarti benar atau tepat pada yang diuji atau sasaran dan servis adalah suatu teknik penyajian bola pertama untuk mengawali suatu permainan sesudah wasit menyatakan pertandingan sudah dimulai, jadi yang dim aksud dengan ketetapan sasaran servis pada penelitian ini adalah sasaran servis yang dilakukan secara akurat atau benar terhadap sasaran yang telah dibuat untuk pengambilan sample pada siswa putra kelas VIII Putra SLTP 3 Narmada.

E. Lapangan Sepak Takraw

Lapangan  Takrow
Keterangan :
A.    : Lingkaran untuk melakukan sepak mula (servis) oleh tekong
B.    : Lingkaran untuk apit kanan
C.    : Lingkaran untuk apit kiri
D.    : Kolom nilai ketepatan sasaran servis
Pada gambar di atas adalah proses evaluasi hasil tes siswa karena membutuhkan data yang akurat dan obyektif, dalam proses pembelajaran tes dan pengukuran merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan, tes merupakan alat yang digunakan untuk memperoleh informasi atau data dari suatu objek yang akan teliti.
Jedi tes adalah merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan atau mengetahui sesuatu yang akan diteliti dengan cara dan aturan yang sudah ditentukan Suharsimi (1995:51)
 
 
Sumber
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2012 in SEPAK TAKRAW

 

Tag: , , , , , ,

 
Windarul's Blog

Just another WordPress.com weblog

SENAM AEROBIC

Tubuh Sehat dan Bugar dengan Aerobic

Kumpulan Puisi

Ingin Menjadi Lebih Baik

PENJAS ORKES

Kenali Diri Sendiri Dulu Sebelum Mengenali Orang Lain

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d bloggers like this: