RSS

Arsip Kategori: PENJAS ORKES

EVALUASI CIPP

Evaluasi merupakan proses yang menentukan kondisi, dimana suatu tujuan telah dicapai.
Defenisi ini menerangkan secara langsung hubungan evaluasi dengan tujuan suatu kegiatan yang mengukur derajat, dimana suatu tujuan dapat dicapai. Sebenarnya evaluasi juga merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan dan mengkomunikasikan bagi keperluan pengambil keputusan

Evaluasi program adalah proses untuk mendeskripsikan dan menilai suatu program dengan menggunakan kriteria tertentu dengan tujuan untuk membantu merumuskan keputusan , kebijakan yang lebih baik. Pertimbangannya adalah untuk memudahkan evaluator dalam mendeskripsikan dan menilai komponen-komponen yang dinilai, apakah sesuai dengan ketentuan atau tidak.

Model CIPP ini dikembangkan oleh Stufflebeam, dkk. (1967) di Ohio State University. CIPP yang merupakan sebuah singkatan dari huruf awal empat buah kata, yaitu :

                                    Context evaluation      : evaluasi terhadap konteks

                                    Input evaluation          : evaluasi terhadap masukan

                                    Proses evaluation        : evaluasi terhadap proses

                                    Product evaluation      : evaluasi terhadap hasil

Keempat kata yang disebutkan dalam singkatan CIPP merupakan sasaran evaluasi, yang tidak lain adalah komponen dari proses sebuah program kegiatan. (Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, 2008:45).

Model CIPP ini disusun dengan tujuan untuk melengkapi dasar pembuatan keputusan dalam evaluasi sistem dengan analisis yang berorientasi pada peruhan terencana.

Batasan tersebut mempunyai tiga asumsi mendasar.

1. Menyatakan pertanyaan yang meminta jawaban dan informasi spesifik yang harus dicapai.

2. Memerlukan data yang relevan, untuk mendukung identifikasi tercapainya masing-masing komponen.

3. Menyediakan informasi yang hasil keberadaannya diperlukan oleh para pembuat keputusan peningkatan program.

Evaluasi model CIPP melayani empat macam keputusan: (1) perencanaan keputusan yang mempengaruhi pemilihan tujuan umum dan khusus, (2) keputusan pembentukan atau structuring, yang kegiatannya mencangkup pemastian strategi optimal dan desain proses untuk mencapai tujuan yang telah diturunkan dari keputusan perencanaan, (3) keputusan implementasi, dimana pada keputusan ini para evaluator mengusahakan sarana-prasaran untuk menghasilkan dan meningkatkan pengambilan keputusan atau eksekusi, rencana, metode, dan strategi yang hendak dipilih, dan (4) keputusan pemutaran yang menentukan jika suatu program itu diteruskan, diteruskan dengan modifikasi, dan atau diberhentikan secara total atas dasar kriteria yang ada.

Untuk melaksanakan empat macam keputusan tersebut, ada empat macam fokus evaluasi, yaitu : (1) evaluasi konteks, menghasilkan informasi tentang macam-macam kebutuhan yang telah diatur prioritasnya, agar tujuan dapat diformulasikan; (2) evaluasi input, menyediakan informasi tentang masukan terpilih, butir – butir kekuatan dan kelemahan, startegi, dan desain untuk merealisasikan tujuan; (3) evaluasi proses, menyediakan untuk para evaluator melakukan prosedur monitoring terpilih yang mungkin baru diimplementasikan sehingga butir yang kuat dapat dimanfaatkan dan yang lemah dapat dihilangkan; (4) evaluasi produk, mengakomodasi informasi untuk meyakinkan dalam kondisi apa tujuan dapat dicapai dan juga untuk menentukan, jika strategi yang berkaitan dengan prosedur dan metode yang diterapkan guna mencapai tujuan sebaiknya berhenti, modifikasi atau dilanjutkan dalam bentuk yang seperti sekarang. (Sukardi, 2009:63,64).

Sumber:

Arikunto, Suharsimi, Cepi Safruddin Abdul Jabar. 2008. Evaluasi Program Pendidikan; Pedoman Teoritis Praktis Bagi Mahasiswa dan Praktisi Pendidik. Jakarta: Bumi Aksara.

Sukardi. 2009. Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Desember 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag: , ,

DOPING

 

doping

Doping adalah penggunaan obat secara ilegal untuk meningkatkan prestasi atlit. Banyak tilikan mengenai doping ini. Seseorang dapat menelaahnya dari aspek farmakologi, psikologis, psikologis-pedagogis. Kesemua tilikan ini penting. Namun yang lebih penting lagi adalah pemahaman dari perspektif etika. Bab 4 ini mengupas masalah doping dari sudut nilai moral atau etika.

TERPERCAYA

Gagasan untuk mengamalkan sportivitas merupakan persoalan besar karena begitu banyak tantangannya. Ide tentang sportivitas ini begitu luhur dalam konteks pembinaan olahraga, kompetensi dan pencapaian prestasi. Dapat dibayangkan apa yang terjadi apabila fairness atau sportivitas ini tidak dapat ditegakkan dalam olahraga. Tanpa sportivitas maka suatu kompetisi tidak akan terkendali.

Namun sportivitas itu bukan soal kepatuhan. Perilaku sportif itu dipelajari. Karena itu harus dipahami mengapa dan bagaimana berperilaku sportif dalam olahraga, dan karena itu pula mereka dilarang menggunakan obat terlarang dalam kompetisi.

Salah satu akibat penggunaan obat terlarang dalam olahraga adalah merosotnya kepercayaan terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kompetisi. Pemeliharaan kepercayaan ini sangatlah mahal dan penting maknanya.

Kepercayaan ini bukan persoalan emosi tetapi kelangsungan fungsi yang menjadi dasar bagi keterpercayaan yang mendalam. Di balik persoalan itu terdapat asumsi yang percaya bahwa terdapat satu peluang yang sama bagi semua orang untuk berprestasi. Tentu saja, tujuan ini sangat sulit dicapai. Kesempatan yang sama memang menjadi semacam ide belaka, sebab betapa sulit untuk mengontrolnya.

Semua pihak yang terlibat dalam suatu kompetisi tentu tidak mengetahui apa yang dikerjakan oleh pihak lawannya. Karena itu siapa yang bias menjamin atlit menggunakan doping sebagai pemacu prestasi ?

Sebagai alat pengontrol adalah adanya peraturan tertulis yang menjadi rujukan perilaku bagi semua pihak terkait, baik atlit, pelatif dan official serta pihak terkait lainnya, tak terkecuali pihak media massa. Setiap pemain harus mematuhi aturan itu, bisa dibayangkan kekacauan yang terjadi dalam suatu kompetisi apabila pemain dan lainya tidak mematuhi aturan itu.

Yang harus dilakukan selanjutnya adalah membangkitkan kebanggaan kepada atlit mengenai publikasi prestasinya yang dicapai dengan memanfaatkan asli usaha dan kemampuan badannya.

Doping tidak saja menghilangkan kepercayaan antara atlit dan sesamanya tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat kepada olahraga. Krisis kepercayaan ini sudah lama terjadi karena factor ketidak jujuran itu. Masyarkat seperti kurang percaya kepada hasil pertandingan sepakbola sebagai kasus permainan skandal suap yang gampang mengatur kedudukan skor. Masyarakat menjadi berkurang kegairahanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola karena masyarakat tau pertandingan tidak dimainkan dengan cara bersungguh-sungguh.

TANGGUNG JAWAB ATLET SENDIRI

Pengadaan lab untuk menganalisis penggunaan obat perangsang atlit tergolong mahal, selain memerlukan keahlian dan peralatan canggih untuk kebutuhan analisinya. Prosedurnya pun cukup kompleks dan memakan energy.

Negara maju dibidang keolahragaanya yang sudah mencapai tahap ‘ olahraga memasyarkat ‘, control doping menjadi pekerjaan yang pasif, sebab begitu banyak jumlah anggota olahragawan yang menjadi populasinya. Karena itu ditempuh jalan melalui pengacakan atau prosedur random. Melalui prosedur undian , maka setiap orang berpeluang  terpilih menjadi subyek yang akan diperiksa apakah sebagai pengguna doping atau tidak. Mereka yang terpilih itu kemudian didatangi oleh petugas untuk diambil urinnya yang selanjutnya diperiksa di lab.

Prosedur itu memang efektif karena semua orang berpeluang untuk diperiksa, dan semua orang dianggap berpeluang pula menggunakan doping. Namun, apakah cara itu dijamin efektif ?

Penciptaan jaringan international untuk menanggulangi masalah doping ini dari sisi ide memang baik, namun tidak layak ditinjau dari aspek teknis dan ekonomi. Terlalu luas jangkauan pekerjaannya dan terlalu mahal pula biayanya.

Cara yang dianggap paling efektif adalah pengawasan melekat melalui self-kontrol. Atlit itu sendirilah yang mengawasi dirinya. Di Negara yang maju  dan terbiasa dengan obat perangsang itu amat kuat.

Terkait dengan hal ini, realisasi pengawasan terhadap diri sendiri itu juga harus didukung oleh pihak lainnya yang sama-sama ikut mengamankan pelanggaran yang terjadi. Para dokter juga ikut bertanggungjawab.

Pengawasan diri itu pada akhirnya terpulang pada etika dan nilai moral yang melakat pada diri seseorang. Atas dasar rujukan itulah ia menentukan pilihannya, apakah menggunakan doping atau tidak.

Karena alasan ancaman terhadap kesehatan, seperti bahaya kena kangker hati, tidak dapat keturunan dan lain-lain yang mengerikan, kesemua itu rupanya tidak cukup membuat atlet jera menggunakan obat itu. Kabar yang tidak tersiar luas mengungkapkan kasus kematian atlit balap sepeda karena menggunakan obat doping.

Jadi yang menjadi benteng sekaligus filter untuk melindungi keselamatan atlit adalah mereka sendiri. Namun demikian seperti disinggung di muka, aspek pedagogic atau pendidikan memainkan peranan penting dalam proses penyadaran dan penbentukan sikap dan perilaku untuk mempertahankan keterpercayaan dalam kejujuran dalam olahraga.

MORAL DOKTER OLAHRAGA

Selain pelatih, dokter olahraga juga merupakan anggota tim atau warga masyarakat olahraga yang ikut serta memelihara kepercayaan terhadap kompetisi dan performa. Sebagai ahli-profesional yang paham akan kasiat obat dan eksesnya ditinjau dari aspek farmakologi, maka dokter olahraga berpotensi untuk terjebak kearah pemberian atau dukungan kepada atlet untuk menggunakan obat perangsang tersebut. Hal itu dapat didorong oleh factor komersialisasi dan nama masyur yang juga terkait denga factor ekonomi. Ketenaran nama yang dicapai atlet akan mendorong peningkatan status sosialnya. Masyarakat mengagumi diri dan prestasi atlit yang bersangkutan.

Lebih khusus lagi para ahli farmakologi merasa ada tantangan untuk melakukan pengujian terhadap kasiat obat terlarang itu. Namun ada yang percaya diantara mereka bahwa obat itu tidak berkhasiat negative. Padahal setiap obat merupakan intrusi kedalam tubuh yang kemudian membangkitkan resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan seseorang.

Sikap yang menganggap enteng itu terjadi karena masih sulit untuk mengklaim bahwa sebagai akibat pemakean anabolic steroid misalnya, prestasi seorang atlit menjadi meningkat. Namun menjadi kebiasaan bagi ahli untuk menyimpulkan adanya korelasi antara prestasi dan pemakaian anabolic steroid walaupun mereka juga sukar menentukan hubungan antara kedua factor itu.

TANGGUNG JAWAB SEMUA ORANG

Pada akhirnya penangkalan masalah doping menjadi tanggung jawab setiap orang, bukan saja atlet, pelatih atau dokter olahraga. Semua orang yang berkepentingan dengan olahraga ikut bertanggung jawab, terhadap doping ini.

Industry farmakologi juga ikut bertanggung jawab, sebab munculnya obat-obat baru dengan segala khasiat dan akibatnya merupakan produk dari iptek di bidang farmasi. Penggunaan doping memang terkait dengan konteks social. Masyarakat memang mengapresiasi pencapaian prestasi. Namun penipuan terjadi, sehingga nilai moral memang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Penggunaan doping sebagai satu bentuk penipuan dalam olahraga itu juga semakin kompleks masalahnya dari aspek kajian aksiologis karena didalamnya terlibat beberapa factor. Apa substan yang dianggap berbahaya dan kemudian seberapa kuat efeknya yang disebut membahayakan ? apakah larangan itu merupakan sebuah prinsip yang konsisten atau sebaliknya, tidaklah pemberian kebebasan untuk memilih merupakan hak bagi orang dewasa yang “dewasa” dan bertanggung jawab atas perbuatanya.

KESIMPULAN

Kesimpulannya, penggunaan doping menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap olahraga, karena itu pula, penggunaan doping menjatuhkan nilai pedagogi olahraga, karena jatuh keterpercayaan . kredibilitas olahraga, kompetisi dan atlit jatuh di mata masyarakat, sebab terjadi penipuan untuk berprestasi, tidak berkat usaha dan dominasi kemampuan yang asli tetapi bantuan dari luar.

DAFTAR PUSTAKA

Lutan, Rusti dan Sumardianto. 1999/2000. Filsafat Olahraga : Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag:

PENGERTIAN PELATIH

Pelatih adalah seorang yang profesional yang tugasnya membantu olahragawan dan tim dalam memperbaiki penampilan olahraga. Karena pelatih adalah suatu profesi, maka sebaiknya pelatih harus dapat memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar/ukuran professional yang ada. Sedangkan yang sesuai dengan standar profesi adalah pelatih harus dapat memberikan pelayanan pelatihan sesuai dengan perkembangan mutakhir pengetahuan ilmiah di bidang yang ditekuni ( Pate Rotella, 1993:5).

Berdasarkan dari hal di atas maka sebaiknya para pelatih harus secara teratur menyesuaikan diri dengan perkembangan terbaru ilmu pengetahuan dan mengubah praktek kepelatihannya.

pelatih

Pelatih yang baik harus mempunyai kemampuan sebagai berikut : (1) mempunyai kemampuan untuk membantu atlet dalam mengaktualisasikan potensinya; (2) bila membentuk tim akan didasarkan pada ketrampilan individu yang telah diajarkan; (3) mempunyai pengetahuan dan keterampilan teknis yang seimbang; (4) mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan tingkat intelektual dengan keterampilan neuromuskuler atletnya; (5) mampu menerapkan prinsip-prinsip ilmiah dalam membentuk kondisi atlet; (6) lebih meningkatkan pada unsur pendidikan secara utuh, baru kemudian pada unsur pelatihan; (7) membenci kekalahan, akan tetapi tidak mencari kemenangan dengan berbagai cara yang tidak etis; (8) mempunyai kemampuan untuk mengendalikan dirinya; (9) mempunyai kemampuan untuk mengevaluasi peningkatan terhadap partisipasi atletnya; (10) mempunyai kemampuan untuk selalu dihormati oleh atletnya maupun teman-temannya; dan (11) mempunyai dedikasi yang tinggi terhadap profesinya ( Mc Kinney, 1975 ).

Landasan Hukum

UU NO 3 TAHUN 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional;  Pasal 83: Ayat 1- 3, yang berbunyi :

 Ayat (1) Sertifikasi dilakukan untuk memenuhi :

  1. Kompetensi Tenaga Keolahragaan

Ayat (2) Hasil sertifikasi berbentuk sertifikat kompetensi dan sertifikat kelayakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang serta induk organisasi cabang olahraga yang bersangkutan sebagai akuntabilitas publik.

Ayat (3) Sertifikat kompetensi diberikan kepada seseorang sebagai pengakuan setelah lulus uji kompetensi.

Pelaksanaan UU

Dalam UU NO 3 Tahun 2005 pasal 83: ayat 1-3 sangat bagus apabila semua pelatih memahami UU ini dan mempunyai sertifikat profesi, pastinya olahraga Indonesia akan maju dan berprestasi.

Namun dalam kenyataan hanya sedikit pelatih yang memperoleh sertifikat ini, kebanyakan para pelatih hanya memikirkan materi dan menciptakan juara yang instan dan tidak memikirkan untuk jangka panjang, sehingga pelatih tidak mempedulikan sertifikat kompetensi. Yang terpenting bagi kebayakan pelatih adalah mereka tidak membutuhkan sertifikat, tetapi materi. Jadi mereka tidak mengerti olahraga yang berkembang sekarang seperti apa. Hal ini juga sangat merugikan bagi atlet sendiri, karena atlet yang ingin sungguh-sungguh berprestasi dan berkembang, mereka tidak dapat mengembangkan kemampuanya karena tidak dibekali latihan yang baik serta perkembangan metode pelatihan baru oleh pelatihnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag: ,

INDUK ORGANISASI OLAHRAGA DI INDONESIA

Berikut ini adalah nama organisasi induk cabang olahraga yang ada di Indonesia diurutkan berdasarkan nama cabang olah raga serta singkatan namanya yang diakui oleh KONI / Komite Olahraga Nasional Indonesia yaitu sebagai berikut :

1. Aero Sport = Federasi Aero Sport Indonesia / FASI
2. Anggar = Persatuan Anggar Seluruh Indonesia / IKASI
3. Atletik = Persatuan Atletik Seluruh Indonesia / PASI
4. Baseball = Perserikatan Bisbol dan Sofbol Amatir Seluruh Indonesia / PERBASASI
5. Berkuda = Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia / PORDASI
6. Berlayar = Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia / PORLASI
7. Biliar = Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia / POBSI
8. Binaraga = Persatuan Angkat Berat dan Binaraga Seluruh Indonesia / PABBSI
9. Bola Basket = Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia / PERBASI
10. Bola Voli = Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia / PBVSI
11. Boling = Persatuan Boling Indonesia / PBI
12. Bulu Tangkis = Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia / PBSI
13. Catur = Persatuan Catur Seluruh Indonesia / PERCASI
14. Dayung = Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia / PODSI
15. Drum Band = Persatuan Drum Band Indonesia / PDBI
16. Golf = Persatuan Golf Indonesia / PGI
17. Gulat = Persatuan Gulat Amatir Seluruh Indonesia / PGSI
18. Judo = Persatuan Judo Seluruh Indonesia / PJSI
19. Karate = Federasi Olahraga Karate-do Indonesia / FORKI
20. Kartu = Gabungan Bridge Seluruh Indonesia / GABSI
21. Kempo = Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia / PERKEMI
22. Kesehatan Olahraga = Kesehatan Olahraga Republik Indonesia / KORI
23. Liong & Barongsai = Persatuan Liong & Barongsai Seluruh Indonesia / PLBSI
24. Menembak = Persatuan Menembak dan BerburuIndonesia / PERBAKIN
25. Motor = Ikatan Motor Indonesia / IMI
26. Olahraga air = Persatuan Renang Seluruh Indonesia / PRSI
27. Olahraga Cacat = Badan Pembina Olahraga Cacat / BPOC
28. Olahraga KORPRI = Badan Pembina Olahraga Korps Pegawai Republik Indonesia / BAPOR KORPRI
29. Olahraga Mahasiswa = Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia / BAPOMI
30. Olahraga Pelajar = Badan Pembina Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia / BAPOPSI
31. Olahraga Sepeda = Ikatan Sport Sepeda Indonesia / ISSI
32. Olahraga Wanita = Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia / PERWOSI
33. Panahan = Persatuan Panahan Indonesia / PERPANI
34. Panjat Tebing = Federasi Panjat Tebing Indonesia / FPTI
35. Pecak Silat = Ikatan Pencak Silat Indonesia / IPSI
36. Selam = Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia / POSSI
37. Senam = Persatuan Senam Indonesia / PERSANI
38. Sepak Takraw = Persatuan Sepak Takraw Seluruh Indonesia / PSTI
39. Sepakbola = Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia / PSSI
40. Sepatu Roda = Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia / PERSEROSI
41. Ski Air = Persatuan Ski Air Seluruh Indonesia / PSASI
42. Sport Dance = Ikatan Olahraga Dansa Indonesia / IODI
43. Squash = Persatuan Squash Indonesia / PSI
44. Taekwondo = Taekwondo Indonesia / TI
45. Tarung Derajat = Keluarga Olahraga Tarung Derajat / KODRAT
46. Tenis = Persatuan Tennis Lapangan Seluruh Indonesia / PELTI
47. Tenis Meja = Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia / PTMSI
48. Tinju = Persatuan Tinju Amatir Indonesia / PERTINA
49. Wartawan Olahraga = Seksi Wartawan Olahraga Persatuan Wartawan Indonesia / SIWO PWI
50. wushu = Wushu Indonesia / WI

Sumber :

2008. Daftar Nama Organisasi Induk Olahraga Di Indonesia – Ilmu Pengetahuan Olahraga. Online

http://organisasi.org/daftar-nama-organisasi-induk-olahraga-di-indonesia-ilmu-pengetahuan-olahraga ( accesed  02/05/12 )

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 November 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag: , , , , ,

10 KOMPONEN KONDISI FISIK

1) Kekuatan (Strenght)

Kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuan dalam mempergunakan otot-otot untuk menerima beban sewaktu bekerja (M. Sajoto, 1995:8). Kekuatan adalah kemampuan untuk membangkitkan ketegangan otot terhadap suatu keadaan (Garuda Mas, 2000 : 90). Kekuatan memegang peranan yang penting, karena kekuatan adalah daya penggerak setiap aktivitas dan merupakan persyaratan untuk meningkatkan prestasi. Dalam permainan sepak bola, kekuatan merupakan salah satu faktor yang menentukan kemampuan permaian seseorang dalam bermain. Karena dengan kekuatan seorang pemain akan dapat merebut atau melindungi bola dengan baik (selain ditunjang dengan faktor teknik bermain yang baik). Selain itu, dengan memiliki kekuatan yang baik dalam sepak bola, pemain dapat melakukan tendangan keras dalam usaha untuk mengumpan daerah kepada teman maupun untuk mencetak gol.

2) Daya Tahan (Endurance)

Daya tahan adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan ototnya untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu (M. Sajoto, 1995:8). Daya tahan adalah kemampun untuk bekerja atau berlatih dalam waktu yang lama, dan setelah berlatih dalam jangka waktu lama tidak mengalami kelelahan yang berlebihan (Garuda Mas, 2000 : 89). Permainan sepak bola merupakan salah satu permainan yang membutuhkan daya tahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Daya tahan penting dalam permainan sepak bola sebab dalam jangka waktu 90 menit bahkan lebih, seorang pemain melakukan kegiatan fisik yang terus menerus dengan berbagai bentuk gerakan seperti berlari, melompat, meluncur (sliding), body charge dan sebagainya yang jelas memerlukan daya tahan yang tinggi.

3) Daya Otot (Muscular Power)

Daya otot adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang dikerjakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (M. Sajoto, 1995:8). Daya otot dipengaruhi oleh kekuatan otot, kecepatan kontraksi otot sehingga semua faktor yang mempengaruhi kedua hal-hal tersebut akan mempengaruhi daya otot. Jadi daya otot adalah kualitas yang memungkinkan otot atau sekelompok otot untuk melakukan kerja fisik secara tiba-tiba. Dalam permainan sepak bola diperlukan gerakan yang dilakukan secara tiba-tiba misalnya gerakan yang dilakukan pada saat merebut bola. Pemakaian daya otot ini dilakukan dengan tenaga maksimal dalam waktu singkat dan pendek. Orang yang sering melakukan aktifitas fisik membuat daya ototnya menjadi baik. Daya otot dipengaruhi oleh kekuatan otot dan kecepatan kontraksi otot sehingga semua faktor yang mempengaruhi kedua hal tersebut akan mempengaruhi daya otot.

4) Kecepatan (Speed)

Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (M.Sajoto, 1995:8). Oleh karena itu seseorang yang mempunyai kecepatan tinggi dapat melakukan suatu gerakan yang singkat atau dalam waktu yang pendek setelah menerima rangsang. Kecepatan disini dapat didefinisikan sebagai laju gerak berlaku untuk tubuh secara keseluruhan atau bagian tubuh. Faktor yang mempengaruhi kecepatan, antara lain adalah : kelentukan, tipe tubuh, usia, jenis kelamin (Dangsina Moeloek, 1984 : 7-8). Kecepatan juga merupakan salah satu faktor yang menetukan kemampuan seseorang dalam bermain sepak bola. Pemain yang memiliki kecepatan akan dapat dengan cepat menggiring bola ke daerah lawan dan akan mempermudah pula dalam mencetak gol ke gawang lawan, selain itu kecepatan juga diperlukan dalam usaha pemain mengejar bola.

5) Daya Lentur (Fleksibility)

Daya lentur adalah efektivitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk segala aktivitas dengan pengukuran tubuh yang luas. Hal ini akan sangat mudah ditandai dengan tingkat fleksibilitas persendian pada seluruh permukaan tubuh (M. Sajoto, 1995:9). Kelentukan menyatakan kemungkinan gerak maksimal yang dapat dilakukan oleh suatu persendian. Jadi meliputi hubungan antara tubuh persendian umumnya tiap persendian mempunyai kemungkinan gerak tertentu sebagai akibat struktur anatominya. Gerak yang paling penting dalam kehidupan sehari-hari adalah fleksi batang tubuh tetapi kelentukan yang baik pada tempat tersebut belum tentu di tempat lain pula demikian (Dangsina Moeloek, 1984 : 9). Dengan demikian kelentukan berarti bahwa tubuh dapat melakukan gerakan secara bebas. Tubuh yang baik harus memiliki kelentukan yang baik pula. Hal ini dapat dicapai dengan latihan jasmani terutama untuk penguluran dan kelentukan. Faktor yang mempengaruhi kelentukan adalah usia dan aktifitas fisik pada usia lanjut kelentukan berkurang akibat menurunnya aktifitas otot sebagai akibat berkurang latihan (aktifitas fisik). Sepak bola memerlukan unsur fleksibility, ini dimaksudkan agar pemain dapat mengolah bola, melakukan gerak tipu, sliding tackle serta mengubah arah dalam berlari.

6) Kelincahan (Agility)

Kelincahan adalah kemampuan seseorang mengubah posisi di area tertentu, seseorang yang mampu mengubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang baik, berarti kelincahannya cukup baik (M. Sajoto, 1995:9). Sedangkan menurut Dangsina Moeloek (1984 : 8) menggunakan istilah ketangkasan. Ketangkasan adalah kemampuan merubah secara tepat arah tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan. Kelincahan seseorang dipengaruhi oleh usia, tipe tubuh, jenis kelamin, berat badan, kelentukan (Dangsina Moeloek, 1984 : 9). Dari kedua pendapat tersebut terdapat pengertian yang menitik beratkan pada kemampuan untuk merubah arah posisi tubuh tertentu. Kelincahan sering dapat kita amati dalam situasi permainan sepak bola, misalnya seorang pemain yang tergelincir dan jatuh di lapangan, namun masih dapat menguasai bola dan mengoperkan bola tersebut dengan tepat kepada temannya. Dan sebaliknya, seorang pemain yang kurang lincah mengalami situasi yang sama tidak saja tidak mampu menguasai bola, namun kemungkinan justru mengalami cedera karena jatuh.

7) Keseimbangan (Balance)

Keseimbangan adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan organ-organ syaraf otot (M. Sajoto, 1995:9). Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap tubuh yang pada saat melakukan gerakan tergantung pada kemampuan integrasi antara kerja indera penglihatan, kanalis semisis kuralis pada telinga dan reseptor pada otot. Diperlukan tidak hanya pada olah raga tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari (Dangsina Moeloek, 1984 : 10). Keseimbangan ini penting dalam kehidupan maupun olah raga untuk itu penting dimana tanpa keseimbangan orang tidak dapat melakukan aktivitas dengan baik. Seorang pemain sepak bola apabila memiliki keseimbangan yang baik, maka pemain itu akan dapat mempertahankan tubuhnya pada waktu menguasai bola. Apabila keseimbangannya baik maka pemain tersebut tidak akan mudah jatuh dalam perebutan bola maupun dalam melakukan body contact terhadap pemain lawan.

8) Koordinasi (Coordination)

Koordinasi adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerak yang berada berada ke dalam pola garakan tunggal secara efektif (Sajoto, 1995:9). Koordinasi menyatakan hubungan harmonis berbagai faktor yang terjadi pada suatu gerakan (Dangsina Moeloek, 1984 : 4). Jadi apabila seseorang itu mempunyai koordinasi yang baik maka ia akan dapat melaksanakan tugas dengan mudah secara efektif. Dalam sepak bola, koordinasi digunakan pemain agar dapat melakukan gerakan teknik dalam sepak bola secara berkesinambungan, misalnya berlari dengan melakukan dribble yang dilanjutkan melakukan shooting kearah gawang dan sebagainya.

9) Ketepatan (Accuracy)

Ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan-gerakan bebas terhadap suatu sasaran, sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu obyek langsung yang harus dikenai dengan salah satu bidang tubuh (M. Sajoto, 1995:9). Dengan latihan atau aktivitas olahraga yang menuju tingkat kesegaran jasmani maka ketepatan dari kerja tubuh untuk mengontrol suatu gerakan tersebut menjadi efektif dan tujuan tercapai dengan baik. Ketepatan dalam sepak bola merupakan usaha yang dilakukan seorang pemain untuk dapat mengoperkan bola secara tepat pada teman, selain itu juga dapat melakukan shooting ke arah gawang secara tepat untuk mencetak gol.

10) Reaksi (Reaction)

Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menghadapi rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau rasa lainnya. Status kondisi fisik seseorang dapat diketahui dengan cara penilaian bentuk tes kemampuan (M. Sajoto, 1995:10). Reaksi dapat dibedakan menjadi tiga macam tingkatan yaitu reaksi terhadap rangsangan pandang, reaksi terhadap pendengaran dan reaksi terhadap rasa. Seorang pemain sepak bola harus mempunyai reaksi yang baik, hal ini dimaksudkan agar pemain mampu untuk bergerak dengan cepat dalam mengolah bola. Biasnya reaksi sangat di butuhkan oleh seorang penjaga gawang untuk menghalau bola dari serangan lawan, akan tetapi semua pemain dituntut juga harus mempunyai reaksi yang baik pula.

Sumber : 2010. Komponen-Komponen Kondisi Fisik. Online http://andibrilinunm.blogspot.com/2010/12/komponen-komponen-kondisi-fisik.html (accesed 02/05/12 )

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada 30 November 2012 in PENJAS ORKES

 

Tag: ,

Analisis Film Freedom Writers

A. Sinopsis

Freedom Writers merupakan film yang didasarkan atas kisah nyata kehidupan seorang guru di Long Beach, California, Erin Gruwell (diperankan oleh Hillary Swank). Erin berprofesi sebagai guru bahasa Inggris ketika isu rasisme di Amerika begitu hegemoni. Ia memasuki dunia pendidikan yang rasis setelah dua tahun keributan L.A menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Dengan penuh harapan, Erin mengajar bahasa Inggris di kelas 203, di mana terdapat beragam gank ras yang selalu mengelompok, seperti ras kamboja, kulit hitam, Hispanic, dan seorang kulit putih.

Pada awal kedatangan Erin, para murid sama sekali tidak tertarik dengan kehadirannya. Mereka sangat sentimen terhadap orang berkulit putih. Mereka menganggap bahwa Erin tidak mengerti apapun tentang kehidupan mereka yang keras, kehidupan yang selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan kekerasan. Bagi mereka, kehidupan adalah bagaimana caranya mereka ”selamat” dari kekerasan, hingga penembakan yang mengatasnamakan “ras”.

Banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Erin, baik dari pihak sekolah yang rasis, hingga pihak suami dan ayahnya. Diskriminasi yang dilakukan oleh pihak sekolah, seperti pemisahan kelas, serta perbedaan fasilitas yang kentara antara ras kulit putih dan ras di luar itu membuat Erin miris. Agar diterima oleh anak-anak didiknya, Erin mencari cara untuk melakukan pendekatan dan metode pengajaran yang tepat. Namun, sejak Erin disibukkan dengan pendekatan terhadap anak-anak didiknya dan bekerja paruh waktu, timbul masalah baru, ia diceraikan oleh suaminya. Hingga pada akhirnya, ayahnya yang semula tidak mendukung, berbalik mendukung pekerjaan Erin.

Erin paham dengan kondisi anak-anak didiknya yang selalu berkelompok dengan ras mereka masing-masing. Akhirnya, ia menemukan cara untuk “menjangkau” kehidupan mereka dengan memberikan mereka buku, dan meminta mereka mengisinya dengan jurnal harian. Bahkan, ketika sekolah mendiskriminasikan fasilitas buku, Erin memberikan buku baru tentang kehidupan gank yang lekat dengan keseharian mereka. Sejak membaca jurnal harian yang bercerita tentang kehidupan mereka yang keras, Erin semakin bersemangat untuk mengubah kehidupan anak-anak didiknya, serta menghapus batas tak terlihat yang secara kultur memisahkan mereka dengan cara-cara yang mengagumkan.

Dalam film ini juga kita bisa melihat bagaimana usaha Erin mendatangkan Mrs…..seorang wanita penolong Anne Frank, anak Yahudi yang hidup pada zaman Hitler dan holocaust-nya. Ia mendatangkan Mrs….untuk berbagi cerita kepada anak-anak didiknya tentang sebuah “bencana” yang terjadi karena rasisme, serta usaha-usaha Erin lainnya yang mendapat tantangan dari pihak-pihak sekolah.

Akhirnya, keteguhan Erin dalam mendidik mereka berbuah hasil. Anak-anak tersebut, yang semula  benci satu sama lain Karena perbedaan ras, akhirnya menjadi berteman dan mendobrak sekat-sekat ras di antara mereka. Bahkan, ketika ada kasus penembakan yang menimpa seorang kawan anak didiknya, ia mengajarkan tentang arti kejujuran.

B. Analisis Adegan dan Isu Dibaliknya

1. Rasisme dan Gank

Isu general yang ditampilkan dalam Freedoms Writers adalah isu ras. Kita bisa melihatnya di awal film ketika seorang kerabat Eva (murid Erin keturunan Hispanic dan kulit hitam) ditembak oleh seseorang dari ras lain, dan penangkapan ayahnya oleh polisi kulit putih. Kondisi Amerika di tahun 1990-an masih kental dengan nuansa rasisme, di mana masing-masing ras saling berlomba untuk mendapatkan pengakuan. Dengan kondisi keluarga yang kacau balau, masing-masing anak melakukan pelarian dengan bergabung bersama gank yang senasib dan tentu saja beranggotakan satu ras yang sama.

Bergabungnya mereka bersama gank adalah suatu kompensasi untuk mendapatkan sebuah “kenyamanan”. Dalam film tersebut, diperlihatkan bagaimana gank tersebut menyambut anggota baru dengan cara dipukuli beramai-ramai. Itu artinya, kehidupan ras selain kulit putih di Amerika, khususnya lapisan bawah, terbilang keras. Dengan dilakukannya “inisiasi” dalam gank, mereka “belajar” untuk menghadapi kehidupan yang keras.

Kehidupan anak-anak yang berlindung di bawah naungan gank bermasalah tentu saja tidak diperlihatkan di sekolah, namun kita bisa melihat bagaimana masing-masing ras hanya berkumpul dan mengobrol dengan sesamanya. Ini menunjukkan bahwa ada rasa sentimen dalam diri masing-masing kelompok. Sekalipun sistem pendidikan di sekolah sudah sampai pada tahap reformasi penyatuan, namun hal tersebut tidak berjalan efektif, bahkan cenderung mendiskriminasi.

Kita juga bisa melihat adegan ketika seorang murid Hispanic menggambar orang kulit hitam dengan bibir tebal di kelas. Konflik terjadi, perang mulut tak bisa dihindari. Sejak saat itulah Erin menyadari bahwa murid-muridnya memiliki rasa sentimen terhadap kelompok di luar rasnya, khususnya orang kulit putih. Selain itu, kita juga bisa melihat aksi gank salah seorang murid Erin, Eva, yang kekasihnya amat benci dengan orang kulit hitam, namun tidak sengaja menembak seorang lelaki kamboja. Namun, ironisnya, lelaki kulit hitamlah yang justru dituduh pelaku penembakan.

Sebagai seorang saksi, Eva bisa saja menyelematkan kekasihnya, namun ia telah mendapatkan pelajaran berharga tentang arti “kebenaran” dan “kejujuran” dari wanita penolong “Anne Frank”. Eva pada saat itu menghadapi sebuah benturan antara idealisme dan realita. Gank baginya adalah keluarga, dan takaran ideal di mata keluarganya adalah “menyelamatkan ras” mereka sendiri walau harus menafikan kebenaran. Namun, pada akhirnya, Eva bersaksi apa adanya, dan jika saja ayahnya yang dipenjara sejak ia kecil itu bukan seseorang yang disegani di kelompok rasnya, maka ia akan menjadi korban penembakan selanjutnya.

Dari situ kita juga bisa melihat bahwa sebuah kelompok ras memiliki seorang pemimpin yang disegani. Penokohan inilah yang menyebabkan Eva lolos dari jeratan maut. Pola pikir Eva mengalami pergeseran. Darah Hispanic memang mengalir deras dalam diri Eva, tapi mengatakan kebenaran yang mengandung tanggung jawab moral jauh lebih berharga dibandingkan bersaksi palsu demi kepentingan kelompok.

2. Diskriminasi dalam Dunia Pendidikan

Ketika Erin kali pertama melihat situasi sekolah, yang dilihatnya adalah adanya perbedaan antara kelas unggulan (didominasi oleh kulit putih, dan hanya ada satu kulit hitam). Fasilitas kelasnya pun berbeda, mulai dari kursi, papan tulis, hingga buku-buku. Saya jadi teringat artikel “Savage in equality” dan “Stereotype” tentang ras di luar kulit putih. Freedom Writers menggambarkan apa yang ditulis dalam artikel-artikel tersebut.

Pemisahan kelas yang dilakukan oleh sekolah memang bukan tanpa alasan. Kebanyakan orang kulit hitam, Hispanic, Kamboja, serta ras di luar kulit putih tidak mendapatkan nilai akademis yang tinggi. Sayangnya, karena stereotipe itulah mereka tidak bisa mengasah kemampuan mereka dan tetap menjadi kaum yang termarjinalkan. Hal ini tentu saja bertentangan dengan Civil Right Act yang dikeluarkan pada 1964.

Dalam film tersebut ada seorang kulit putih yang secara akademis kurang, karena itu, ia bergabung bersama orang-orang dari ras lain. Sayangnya, posisi anak kulit putih itu, sungguh dilematis. Di satu sisi, ia harus bergabung karena ia tidak begitu pandai, namun di sisi lain, ia adalah orang yang berada di zona kenyamanan sebagai orang kulit putih yang tidak pernah dihantui perang dan kekerasan. Hal yang sama juga dirasakan oleh seorang anak kulit hitam yang berada di kelas orang kulit putih karena ia baik secara akademis. Sayangnya, kehadiran mereka yang minoritas membuat mereka terpojokkan, sampai-sampai anak kulit hitam yang cerdas meminta pindah ke kelas Erin.

Ada yang mengejutkan dari sekolah ini. Rupanya, kepala sekolah di mana Erin mengajar adalah orang kulit hitam. Satu hal yang saya catat, bahwasanya warga kulit hitam baru akan dipandang ketika ia adalah orang yang cerdas dan berkedudukan tinggi. Namun, fakta di lapangan, secerdas apa pun orang itu, rasa “merendahkan” masih tetap mengakar di hati orang kulit putih. Hal ini terlihat dari perkataan seorang murid kulit putih di kelas unggulan yang ditanya tentang pendapatnya mengenai orang kulit hitam. Itu yang menyebabkan seorang anak kulit hitam di kelas tersebut merasa terpojokkan dan meminta pindah kelas ke ruang 203. Jadi, secerdas apa pun orang kulit hitam, diskriminasi ras tidak bisa dielakkan, bahkan kepala sekolah yang notabene memiliki wewenang tertinggi tidak bisa berbuat apa-apa ketika Erin meminta bantuannya.

Diskriminasi ras yang dilakukan oleh pihak sekolah juga terlihat dari pemberian buku-buku teks bahan ajar. Kelas yang terdiri dari berbagai ras hanya mendapat buku-buku bekas dan usang. Sungguh amat wajar jika ketika Erin memberikan novel baru, mereka merasa “surprised”. Dalam film tersebut, ada seorang guru kulit putih yang semula menerima Erin dengan lapang, namun ketika Erin melakukan berbagai pendekatan kultural dengan anak-anak didiknya, termasuk meminta dana agar mendatangkan wanita penolong Anne Frank dan terus mengajar anak-anak didiknya sampai tingkat akhir, guru tersebut menjadi tersinggung dan merasa tidak dianggap. Itu semua tidak terlepas dari ego yang tinggi, serta pandangan guru tersebut mengenai anak-anak di luar kulit putih.

3.  Pemberian Jurnal dan Cerita di Balik Itu

Anak-anak didik Erin adalah anak-anak yang selalu berada di bawah bayang-bayang perang dan berasal dari keluarga yang kacau balau. Dengan diberikannya buku jurnal, mereka merasa bisa menumpahkan emosi mereka dan bercerita tentang latar belakang keluarganya yang penuh lika-liku. Dari bagian ini, kita bisa melihat betapa pentingya media curahan hati bagi mereka. Mereka adalah kaum minoritas yang merasa terpojokkan, mereka butuh sesuatu yang bisa membuat mereka lega. Erin melakukan pendekatan yang luar biasa dengan memberikan buku jurnal tersebut.

Dari cerita-cerita mereka, kita dapat menganalisa betapa kerasnya kehidupan mereka sejak kecil. Hal inilah yang menyebabkan kepribadian mereka menjadi kasar dan cenderung memberontak. Di antara mereka bahkan ada yang memiliki senjata tajam. Entah sudah berapa banyak kawan gank-nya yang menjadi korban penembakan dari gank ras lain. Selain itu, ada juga anak yang diusir oleh orang tuanya karena bergabung bersama gank sebagai pelarian, serta cerita-cerita mengharukan lainnya.

Dari cerita-cerita mereka, dapat disimpulkan bahwa rata-rata keluarga di luar kulit putih, terutama yang berasal dari kalangan bawah, adalah keluarga yang tidak harmonis. Bukan tanpa alasan mengapa keluarga mereka demikian. Kondisi rasis yang terjadi di Amerika menyebabkan mereka saling menjatuhkan satu sama lain untuk mengklaim bahwa ras mereka adalah ras yang sepatutnya dihormati. Segregasi kultural yang terjadi di Amerika kenyataannya telah menyebabkan non-white menjadi underclasses.

4. “Anne Frank” dan Holocaust

Dalam film Freedom Writers, kita juga bisa melihat bagaimana isu tentang holocaust atau pembantaian besar-besaran Hitler terhadap kaum yahudi diangkat. Dikisahkan bahwa Erin memberikan buku tentang novel yang diadopsi dari buku diary Anne Frank kepada murid-muridnya, agar mereka bisa mengerti apa yang akan terjadi jika setiap ras mengklaim dirinyalah yang paling kuat. Mereka juga diajak mengunjungi museum, menonton film-film dokumenter, serta berbagi kisah bersama korban rasisme. Di museum itu pula mereka diperlihatkan foto-foto orang besar yang berasal dari ras mereka sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang non-white juga memiliki sejarah tersendiri dan pernah menjadi orang yang dihormati pada zamannya.

5. Keluarga Erin: Peran Suami dan Ayah

Ketika Erin disibukkan dengan aktivitasnya mengubah pola pikir anak didiknya, keutuhan rumah tangganya malah tidak bisa dipertahankan. Suami Erin yang lebih sering berada di rumah merasa dirinya yang menjadi “istri”. Sebetulnya, sang suami sebelumnya mendukung ia menjadi guru, tapi lama-kelamaan ia keberatan karena Erin tidak memiliki waktu banyak untuk melayaninya. Ternyata, pola pikir suami Erin masih seperti orang kebanyakan, cenderung rasis. Di bagian ini, kita bisa melihat kondisi yang paradoks. Di satu sisi, Erin ingin mengubah pandangan orang-orang di luar kulit putih tentang rasisme, namun di sisi lain, suaminya sendiri belum bisa berpikiran seperti itu. Bahkan, begitu mudahnya perceraian diajukan oleh sang suami. Dalam beberapa kasus, posisi laki-laki dalam rumah tangga cenderung dominan.

Pihak ayah justru sebaliknya. Ia semula tidak mendukung, namun melihat Erin bekerja mati-matian, bahkan hingga diceraikan, ia berbalik menjadi pendukung. Kita bisa melihat sikap ayah Erin yang memandang bahwa profesi “guru” bukan profesi yang istimewa dibandingkan profesi seputar bisnis. Namun, sejak Erin berhasil mendidik murid-muridnya menjadi terpelajar, saat ini, berdasarkan kisah nyata, Erin menjadi dosen di California University berkat dedikasinya yang tinggi sebagai seorang pendidik.

Pesan Moral

  1. Menjalin persatuan dan kesatuan dalam perbedaan
  2. Tidak adanya deskriminasi antar ras
  3. Pengelolaan kelas yang luar biasa
  4. Menjalani sebuah pekerjaan dengan semangat, sabar dan tuntas
  5. Tidak pernah menyerah dalam menghadapi masalah
  6. Berkata jujur walaupun menyakitkan
  7. Hormati orang lain apabila ingin dihormati
  8. Percaya akan langkah dan kemampuan yang telah diambil
  9. Hidup hanyalah sementara
  10. Pengalaman merupakan guru yang tidak pernah hilang
  11. Menikmati hidup dengan orang-orang yang di cintai
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 November 2011 in PENJAS ORKES

 

Tag: , , , ,

KODE ETIK GURU

  1. GURU BERBAKTI MEMBIMBING PESERTA DIDIK UNTUK MEMBENTUK MANUSIA INDONESIA SEUTUHNYA YANG BERJIWA PANCASILA

  2. GURU MEMILIKI DAN MELAKSANAKAN KEJUJURAN PROFESIONAL

  3. GURU BERUSAHA MEMPEROLEH INFORMASI TENTANG PESERTA DIDIK SEBAGAI BAHAN MELAKUKAN BIMBINGAN DAN PEMBINAAN

  4. GURU MENCIPTAKAN SUASANA SEKOLAH SEBAIK-BAIKNYA YANG MENUNJANG BERHASILNYA PROSES BELAJAR MENGAJAR

  5. GURU MEMELIHARA HUBUNGAN BAIK DENGAN ORANG TUA MURID DAN MASYARAKAT SEKITARNYA UNTUK MEMBINA PERAN SERTA DAN RASA TANGGUNG JAWAB BERSAMA TERHADAP PENDIDIKAN

  6. GURU SECARA PRIBADI DAN BERSAMA-SAMA MENGEMBANGKAN DAN MENINGKATKAN MUTU DAN MARTABAT PROFESIONALNYA

  7. GURU MEMELIHARA HUBUNGAN SEPROFESI, SEMANGAT KEKELUARGAAN, DAN KESETIAKAWANAN

  8. GURU SECARA BERSAMA-SAMA MEMELIHARA DAN MENINGKATKAN MUTU ORGANISASI PGRI SEBAGAI SARANA PERJUANGAN DAN PENGABDIAN

  9. GURU MELAKSANAKAN SEGALA KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH DALAM BIDANG PENDIDIKAN
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 November 2011 in PENJAS ORKES

 

Tag:

 
Windarul's Blog

Just another WordPress.com weblog

SENAM AEROBIC

Tubuh Sehat dan Bugar dengan Aerobic

Kumpulan Puisi

Ingin Menjadi Lebih Baik

PENJAS ORKES

Kenali Diri Sendiri Dulu Sebelum Mengenali Orang Lain

WordPress.com News

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: