RSS

DOPING

02 Des

 

doping

Doping adalah penggunaan obat secara ilegal untuk meningkatkan prestasi atlit. Banyak tilikan mengenai doping ini. Seseorang dapat menelaahnya dari aspek farmakologi, psikologis, psikologis-pedagogis. Kesemua tilikan ini penting. Namun yang lebih penting lagi adalah pemahaman dari perspektif etika. Bab 4 ini mengupas masalah doping dari sudut nilai moral atau etika.

TERPERCAYA

Gagasan untuk mengamalkan sportivitas merupakan persoalan besar karena begitu banyak tantangannya. Ide tentang sportivitas ini begitu luhur dalam konteks pembinaan olahraga, kompetensi dan pencapaian prestasi. Dapat dibayangkan apa yang terjadi apabila fairness atau sportivitas ini tidak dapat ditegakkan dalam olahraga. Tanpa sportivitas maka suatu kompetisi tidak akan terkendali.

Namun sportivitas itu bukan soal kepatuhan. Perilaku sportif itu dipelajari. Karena itu harus dipahami mengapa dan bagaimana berperilaku sportif dalam olahraga, dan karena itu pula mereka dilarang menggunakan obat terlarang dalam kompetisi.

Salah satu akibat penggunaan obat terlarang dalam olahraga adalah merosotnya kepercayaan terhadap hasil yang dicapai dalam suatu kompetisi. Pemeliharaan kepercayaan ini sangatlah mahal dan penting maknanya.

Kepercayaan ini bukan persoalan emosi tetapi kelangsungan fungsi yang menjadi dasar bagi keterpercayaan yang mendalam. Di balik persoalan itu terdapat asumsi yang percaya bahwa terdapat satu peluang yang sama bagi semua orang untuk berprestasi. Tentu saja, tujuan ini sangat sulit dicapai. Kesempatan yang sama memang menjadi semacam ide belaka, sebab betapa sulit untuk mengontrolnya.

Semua pihak yang terlibat dalam suatu kompetisi tentu tidak mengetahui apa yang dikerjakan oleh pihak lawannya. Karena itu siapa yang bias menjamin atlit menggunakan doping sebagai pemacu prestasi ?

Sebagai alat pengontrol adalah adanya peraturan tertulis yang menjadi rujukan perilaku bagi semua pihak terkait, baik atlit, pelatif dan official serta pihak terkait lainnya, tak terkecuali pihak media massa. Setiap pemain harus mematuhi aturan itu, bisa dibayangkan kekacauan yang terjadi dalam suatu kompetisi apabila pemain dan lainya tidak mematuhi aturan itu.

Yang harus dilakukan selanjutnya adalah membangkitkan kebanggaan kepada atlit mengenai publikasi prestasinya yang dicapai dengan memanfaatkan asli usaha dan kemampuan badannya.

Doping tidak saja menghilangkan kepercayaan antara atlit dan sesamanya tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat kepada olahraga. Krisis kepercayaan ini sudah lama terjadi karena factor ketidak jujuran itu. Masyarkat seperti kurang percaya kepada hasil pertandingan sepakbola sebagai kasus permainan skandal suap yang gampang mengatur kedudukan skor. Masyarakat menjadi berkurang kegairahanya untuk menyaksikan pertandingan sepak bola karena masyarakat tau pertandingan tidak dimainkan dengan cara bersungguh-sungguh.

TANGGUNG JAWAB ATLET SENDIRI

Pengadaan lab untuk menganalisis penggunaan obat perangsang atlit tergolong mahal, selain memerlukan keahlian dan peralatan canggih untuk kebutuhan analisinya. Prosedurnya pun cukup kompleks dan memakan energy.

Negara maju dibidang keolahragaanya yang sudah mencapai tahap ‘ olahraga memasyarkat ‘, control doping menjadi pekerjaan yang pasif, sebab begitu banyak jumlah anggota olahragawan yang menjadi populasinya. Karena itu ditempuh jalan melalui pengacakan atau prosedur random. Melalui prosedur undian , maka setiap orang berpeluang  terpilih menjadi subyek yang akan diperiksa apakah sebagai pengguna doping atau tidak. Mereka yang terpilih itu kemudian didatangi oleh petugas untuk diambil urinnya yang selanjutnya diperiksa di lab.

Prosedur itu memang efektif karena semua orang berpeluang untuk diperiksa, dan semua orang dianggap berpeluang pula menggunakan doping. Namun, apakah cara itu dijamin efektif ?

Penciptaan jaringan international untuk menanggulangi masalah doping ini dari sisi ide memang baik, namun tidak layak ditinjau dari aspek teknis dan ekonomi. Terlalu luas jangkauan pekerjaannya dan terlalu mahal pula biayanya.

Cara yang dianggap paling efektif adalah pengawasan melekat melalui self-kontrol. Atlit itu sendirilah yang mengawasi dirinya. Di Negara yang maju  dan terbiasa dengan obat perangsang itu amat kuat.

Terkait dengan hal ini, realisasi pengawasan terhadap diri sendiri itu juga harus didukung oleh pihak lainnya yang sama-sama ikut mengamankan pelanggaran yang terjadi. Para dokter juga ikut bertanggungjawab.

Pengawasan diri itu pada akhirnya terpulang pada etika dan nilai moral yang melakat pada diri seseorang. Atas dasar rujukan itulah ia menentukan pilihannya, apakah menggunakan doping atau tidak.

Karena alasan ancaman terhadap kesehatan, seperti bahaya kena kangker hati, tidak dapat keturunan dan lain-lain yang mengerikan, kesemua itu rupanya tidak cukup membuat atlet jera menggunakan obat itu. Kabar yang tidak tersiar luas mengungkapkan kasus kematian atlit balap sepeda karena menggunakan obat doping.

Jadi yang menjadi benteng sekaligus filter untuk melindungi keselamatan atlit adalah mereka sendiri. Namun demikian seperti disinggung di muka, aspek pedagogic atau pendidikan memainkan peranan penting dalam proses penyadaran dan penbentukan sikap dan perilaku untuk mempertahankan keterpercayaan dalam kejujuran dalam olahraga.

MORAL DOKTER OLAHRAGA

Selain pelatih, dokter olahraga juga merupakan anggota tim atau warga masyarakat olahraga yang ikut serta memelihara kepercayaan terhadap kompetisi dan performa. Sebagai ahli-profesional yang paham akan kasiat obat dan eksesnya ditinjau dari aspek farmakologi, maka dokter olahraga berpotensi untuk terjebak kearah pemberian atau dukungan kepada atlet untuk menggunakan obat perangsang tersebut. Hal itu dapat didorong oleh factor komersialisasi dan nama masyur yang juga terkait denga factor ekonomi. Ketenaran nama yang dicapai atlet akan mendorong peningkatan status sosialnya. Masyarakat mengagumi diri dan prestasi atlit yang bersangkutan.

Lebih khusus lagi para ahli farmakologi merasa ada tantangan untuk melakukan pengujian terhadap kasiat obat terlarang itu. Namun ada yang percaya diantara mereka bahwa obat itu tidak berkhasiat negative. Padahal setiap obat merupakan intrusi kedalam tubuh yang kemudian membangkitkan resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan seseorang.

Sikap yang menganggap enteng itu terjadi karena masih sulit untuk mengklaim bahwa sebagai akibat pemakean anabolic steroid misalnya, prestasi seorang atlit menjadi meningkat. Namun menjadi kebiasaan bagi ahli untuk menyimpulkan adanya korelasi antara prestasi dan pemakaian anabolic steroid walaupun mereka juga sukar menentukan hubungan antara kedua factor itu.

TANGGUNG JAWAB SEMUA ORANG

Pada akhirnya penangkalan masalah doping menjadi tanggung jawab setiap orang, bukan saja atlet, pelatih atau dokter olahraga. Semua orang yang berkepentingan dengan olahraga ikut bertanggung jawab, terhadap doping ini.

Industry farmakologi juga ikut bertanggung jawab, sebab munculnya obat-obat baru dengan segala khasiat dan akibatnya merupakan produk dari iptek di bidang farmasi. Penggunaan doping memang terkait dengan konteks social. Masyarakat memang mengapresiasi pencapaian prestasi. Namun penipuan terjadi, sehingga nilai moral memang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Penggunaan doping sebagai satu bentuk penipuan dalam olahraga itu juga semakin kompleks masalahnya dari aspek kajian aksiologis karena didalamnya terlibat beberapa factor. Apa substan yang dianggap berbahaya dan kemudian seberapa kuat efeknya yang disebut membahayakan ? apakah larangan itu merupakan sebuah prinsip yang konsisten atau sebaliknya, tidaklah pemberian kebebasan untuk memilih merupakan hak bagi orang dewasa yang “dewasa” dan bertanggung jawab atas perbuatanya.

KESIMPULAN

Kesimpulannya, penggunaan doping menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap olahraga, karena itu pula, penggunaan doping menjatuhkan nilai pedagogi olahraga, karena jatuh keterpercayaan . kredibilitas olahraga, kompetisi dan atlit jatuh di mata masyarakat, sebab terjadi penipuan untuk berprestasi, tidak berkat usaha dan dominasi kemampuan yang asli tetapi bantuan dari luar.

DAFTAR PUSTAKA

Lutan, Rusti dan Sumardianto. 1999/2000. Filsafat Olahraga : Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Desember 2012 in KESEHATAN

 

Tag: , ,

Terimaksih Atas Kunjungannnya, Jangan Lupa Tinggalkan Komentar...!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
mufidaharief.com

The greatest WordPress.com site in all the land!

PUTRA PLUMBON JAYA

Sitik Sing Penting Kena Go Seduluran

Diones Aliaski Blog

Just another WordPress.com weblog

Sya3's Blog

Just another WordPress.com site

fathindoagrilestari (FAL)

Just another WordPress.com site

ekoariyanto56

Salam Sukses

agoesspendubayan

HIDUPLAH BUAT ORANG LAIN

anggifebriyanti's Blog

A fine WordPress.com site

Ariful_Anam

Bisnis Online

Windarul's Blog

Just another WordPress.com weblog

SENAM AEROBIC

Tubuh Sehat dan Bugar dengan Aerobic

Kumpulan Puisi

Ingin Menjadi Lebih Baik

PENJAS ORKES

Kenali Diri Sendiri Dulu Sebelum Mengenali Orang Lain

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: